Posts

IDAR (Part 4)

Image
Buah Melinjo Bagian 4. Berhijrah ke Kota Waktu terus berjalan. Idar telah menyelesaikan sekolah menengahnya. Tekadnya untuk melanjutkan sekolah ke peringkat yang lebih tinggi, tetap menjadi cita-cita yang tak tergoyahkan. Walaupun ibunya sedikit memberi bantahan, pada akhirnya tetap memberi izin baginya meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Idar mulai membuat persiapan keberangkatannya ke kota di mana dia akan menyambung pelajarannya. “Baik-baik di sana nanti ya, Dar. Belajar yang benar, jangan banyak main. Fokus dengan sekolahnya.” Izah mengingatkan Idar. Kakaknya itu, sehabis tamat sekolah menengahnya, tidak melanjutkan sekolah lagi. Dia hanya tinggal di rumah menolong ibu dan ayahnya. Sekali-kali membantu neneknya mengajarkan mengaji anak-anak kampung. Bu Zuri, walaupun sedikit berat hati melepaskan anak perempuannya merantau, tetap berpesan kepada Idar. “Jaga diri, ingat keluarga. Berbaik-baiklah dengan keluarga Pamanmu nanti di sana. Jadi...

IDAR (Part 3)

Image
Jalan kampung kini yang masih tetap ada lembu berkeliaran Bagian 3. Masa Penuh Saing “Deriii …, kamu kemanakan buku kakak?” jeritan Idar terdengar dari atas. Dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Tiba-tiba tadi, Deri merebut bukunya dan melarikannya ke bawah. Deri memang sering sekali mencari masalah dengan Idar. Ada saja yang dilakukannya untuk membuat Idar marah. Deri selalu merasa semua barang-barang yang dimiliki saudaranya yang lain adalah miliknya juga. Dia merasa punya hak yang sama untuk menggunakannya. Walhal kadang-kadang, dia tidak memerlukannya. Persaingan Idar dengan adik lelakinya, tidak hanya masalah rebutan barang, tetapi sering terjadi juga saat merebut perhatian dari ibu mereka. Idar akan selalu kalah, karena ibunya memang sangat menyayangi anak lelaki pertamanya itu. Apa saja yang diminta dan diinginkan Deri akan dipenuhi ibunya. Kondisi ini yang lebih membuat Idar keki dan tidak puas hati dengan adiknya itu. *** “Idar, ayo cepat, na...

SUSAHKAH BERDAMAI?

Image
Foto berasal dari screen shoot video yang di-share FB, pagi tadi. Building Peace Together Perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian Banyak yang cinta damai tapi perang makin ramai Bingung-bingung ku memikirnya Perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian Banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai Bingung-bingung ku memikirnya Meski kau anak manusia, ingin aman dan sentosa Wahai kau anak manusia, ingin aman dan sentosa Tapi kau buat senjata, biaya berjuta-juta Banyak gedung kau dirikan, kemudian kau hancurkan Bingung-bingung ku memikirnya Perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian Banyak yang cinta damai, tapi perang makin ramai Bingung-bingung ku memikirnya Rumah sakit kau dirikan, orang sakit kau obatkan Orang miskin kau kasihi, anak yatim kau santuni Tapi peluru kau ledakan, semua jadi berantakan Bingung-bingung ku memikirnya Perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian Banyak yang cinta damai, tapi perang makin ram...

IDAR (Part 2)

Image
Bagian 2. Keluarga Pak Baha    Idar kecil adalah seorang gadis yang aktif dan lasak. Cita-citanya untuk sekolah setinggi-tingginya selalu dia utarakan setiap ada kesempatan berbicara dengan ayahnya.   Seperti saat ini. Dia tidak mengutarakan hasratnya itu kepada ibunya, karena mereka selalu berbeda pendapat setiap berbicara tentang sekolah. Ibu Zuri, adalah seorang yang berpikiran sederhana dan agak tradisional. Beliau beranggapan , anak perempuan tidak perlu bersekolah tinggi. Ujung-ujungnya ke dapur juga. Anak lelaki saja yang perlu sekolah tinggi-tinggi. Jadi, tidak ada perbincangan yang menarik tentang itu dengan ibunya bagi seorang Idar, yang punya semangat menggebu untuk sekolah setinggi-tingginya. Dia akan lebih terbuka bercerita tentang mimpinya itu dengan ayahnya. Pak Baha sangat mendukung keinginan anaknya itu. Beliau tidak membeda-bedakan pendidikan yang perlu ditempuh anak-anaknya, baik perempuan atau pun lelaki. Semua punya kesempatan yang sama untuk ...

RINDU ITU…

Image
Pantai Alue Naga, Banda Aceh Duduk terpaku ku di situ, Di batang kayu tua yang dimamah asinnya laut, Kupandang hamparan laut luas di hadapanku, Ombak yang memukul pantai, malu-malu menghempaskan dirinya, Terlalu lembut di mataku, Berbeda jauh dengan laut di sana… Laut di kampungku, tersaji begitu indah, Hamparan pasir putih atau kelabunya, begitu memesona, Hempasan ombak yang keras dan kuat, Mengerikan, tapi dirindui, Bergulung-gulung putih, datang mencium bibir pantai, Yang begitu mesra menyambutnya… Walau pernah musnah diterjang ombak raksasa, dan mengubah topografimu, Engkau tetap jadi tarikan, Walau bertahun kutinggalkan, rindu mencumbuimu selalu datang, Lhok Nga, Lampuuk, Alue Naga, Ujong Batee, Krueng Raya, Lhok Mee, Nama-nama yang selalu kurindu mengunjunginya, setiap pulang, Indahmu tiada bandingnya…

MENABUNG AMAL DENGAN BUKU

Image
Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah . Begitulah Imam Al Ghazali berpesan. Dan, Ali bin Abi Thalib menegaskan pula bahwa, “Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti” . Dua pesanan bijak tersebut, cukup memberi landasan kokoh, mengapa setiap kita perlu mengamalkan dan mempertahankan kebiasaan menulis. Menulis tidak sekedar menulis. Tapi, menulis yang mendatangkan manfaat, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Sebuah peluang besar untuk mengumpul amal. Amal jariah. Amal yang akan menolong kita di alam sana.              Sebagaimana semua tahu, bahwa salah satu di antara amal jariah yang akan membahagiakan kita nanti adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat tersebut tidak hanya dapat disebarkan langsung melalui pengajaran dengan tatap muka, tetapi juga bisa...

MAKANAN PENYELAMAT MENYELERAKAN

Image
Tulisan ini tidak ada unsur promosi dan iklan sebuah produk. Cuma mau jadikan contoh saja, biar sesuai dengan isi tulisan hari ini.  😁 Foto: Google Image Setiap perempuan dewasa, selama sebulan berpuasa, pasti ada hari-hari, di mana mereka tidak berpuasa. Termasuklah saya dan teman-teman wanita pastinya. Bagi saya, tiba-tiba tidak berpuasa selama beberapa hari menjalankannya, sungguh tidak nikmat. Seringnya saya lebih memilih terus saja ikut berpuasa seperti anggota keluarga yang lain. Alasannya, bila mulai bisa berpuasa lagi, maka seperti memulai kembali dari nol. Supaya rasa berpuasanya tidak hilang, maka biasanya saya akan terus berpuasa saja. Tapi, sekali-kali jika saya memilih tidak berpuasa pada masa itu, maka makanan inilah yang menjadi peneman dan pengisi perut. Entah kenapa, nikmat sekali memakan dan menghabiskannya pada saat bulan puasa.  πŸ˜€ Padahal ada lauk pauk lengkap tersedia. Tetap saja mi instan menjadi pilihan.  Mengayuh sepeda atau meng...