Posts

BELAJAR MERAWAT CINTA

Image
Sebuah Review Kulwap-KIB Kemarin malam, saya diamanahkan untuk mengawal kuliah melalui WhatsApp (Kulwap), di grup keren Komunitas Ibu Bahagia (KIB). Materinya sangat menarik. Bikin mata melek. Telinga tegak. Kepala mengangguk-angguk, tanpa mengeleng. Dan, mulai memikirkannya. Memang bukan kali pertama saya menjadi moderator online. Akan tetapi, perasaan nervous, tetap menghantui setiap tugas itu diserahkan ke saya. Menjadi moderator langsung, sering saya lakukan duluuu, di masa-masa kejayaan, hahah. Masa remaja dan kuliah, maksudnya. Respon audiens bisa kita lihat langsung. Membosankan, semangat, tertarik, betah, dan berbagai emosi lainnya. Nah, menjadi moderator online ini, sangat susah menebak. Pesertanya tidak bisa kita lihat langsung reaksinya. Mimik wajahnya. Kesan bosannya. Atau semangatnya. Kecuali mereka ikut serta memberi komentar dalam grup. Jadi, tantangannya jauh lebih besar. Apa pun ceritanya, pasti tetap ada cara untuk menjadikan sebuah pertemuan online itu berkesan d...

CERITA SEBUAH DRAMA

Image
Entah apa yang menyebabkan drama televisi dari Korea, begitu menambat hati untuk ditonton. Bukan semua drama yang ditayangkan, saya suka. Hanya drama-drama dengan tema yang lain daripada lain saja. Yang punya nilai-nilai kewajaran yang standar, yang bisa membuat betah untuk ditonton. Saya, adalah seorang penikmat drama yang cerewet, menurut anak saya. Saya sering membandingkan drama Korea dengan drama Malaysia atau sinetron Indonesia. Yang paling sering dicereweti adalah kewajaran jalinan ceritanya dan solekan pemerannya. Waah! Ketidakpuasan terhadap kedua hal itu sering menjadikan saya berhenti atau tidak menonton sama sekali drama tersebut. Bagi saya, sebuah drama, walau mungkin hanya fiktif, harus tetap punya kewajaran dalam pemaparannya. Apalagi jika ide ceritanya adalah kisah kehidupan sehari-hari. Contohnya sebuah drama televisi Malaysia, yang diputar beberapa waktu lalu. Lupa judulnya. Dikisahkan perjalanan kehidupan dalam cerita itu terjadi dari masa sekarang sampai...

REWANG

Image
Tradisi rewang yang kami lakukan pagi tadi. Beberapa waktu belakangan ini, perkataan “rewang” begitu sering terdengar disebutkan teman-teman di sini. Mulanya saya rasa aneh dan ingin tahu apa maksudnya. Mereka menyebut istilah itu untuk menyatakan pekerjaan menolong, gotong royong masyarakat bagi melancarkan kenduri kawin. Ya, kami memang sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk kelancaran kenduri perkawinan anak seorang teman. Iseng-iseng, saya mencari tahu lebih jauh tentang tradisi tersebut. Dan, apa yang saya temukan? Ternyata rewang ini adalah tradisi yang mulanya berkembang dari komunitas masyarakat Jawa yang ada di Malaysia. Salah satunya adalah di wilayah Kuala Selangor, Selangor, yang memang terkenal sebagai salah satu tempat bermukimnya masyarakat berketurunan Jawa di sini. Penelusuran terus dilanjutkan. Saya ingin mengetahui apakah masyarakat di Jawa sendiri mengenal tradisi ini atau tidak. Sebab, ada beberapa tradisi yang berkembang di sini, tidak diken...

PENTINGNYA PENDIDIKAN KETERAMPILAN HIDUP

Image
Salah satu contoh ketrampilan Membicarakan pendidikan keterampilan, khususnya keterampilan  dalam hidup dan kehidupan adalah satu bahasan yang cukup menarik. Karena pendidikan tersebut adalah hasil nyata dari sebuah pengajaran. Pendidikan keterampilan hidup adalah tiga gabungan kata, yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Menurut KBBI, pendidikan adalah proses pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; cara, perbuatan mendidik.   Keterampilan pula diartikan sebagai kecakapan untuk menyelesaikan tugas . Sedangkan hidup mempunyai banyak makna, salah satunya adalah masih terus ada; bergerak dan bekerja sebagaimana biasanya. Jika ketiganya disusun dalam satu kesatuan, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan keterampilan hidup adalah kemampuan seorang manusia untuk beradaptasi dan mampu menyelesaikan berbagai situasi yang dihadapi sehari-hari, baik yang positif ataupun negatif. ...

IDAR (Part 10)

Image
Bagian 10. Akhir Membahagiakan “Ibu, Bu …, sedang mikirin apa, Bu?” Tiba-tiba suara lembut anak ketiganya, Sofi, mengejutkannya dari lamunan panjang akan kampung tercinta, kenangan masa kecilnya hingga sampai ke saat ini. Idar tersenyum menanggapi pertanyaan anaknya itu. “Ibu teringat Nenek, Kakek dan ketenangan kampung di masa kecil Ibu, Nak! Masa yang penuh perjuangan dan tantangan. Semua masih serba kekurangan, tapi tetap penuh keriangan dan keceriaan.” Dia melanjutkan pernyataannya, “Berbeda sekali dengan saat ini, semua serba ada. Fasilitas umum lengkap, di mana pun berada. Semua kemudahan telah tersedia untuk mempermudah kehidupan.” “Iya, Bu, zaman sudah berubah kan, Bu?” Sofi menguatkan pernyataan Ibunya. “Kalian membesar dengan baik, walaupun sedari kecil sudah ditinggal Ayah. Kenyataan itu yang paling membuat Ibu sangat bersyukur. Sebesar-besar syukur!” Sofi mengusap tangan Ibunya lembut, sambil menatap mata tua Ibunya. Sofi berkata dengan perlah...

IDAR (Part 9)

Image
Bagian 9 Cita-cita di Depan Mata Setiap kejadian yang dialami seseorang selalu ada hikmah Allah kirmkan bersamanya. Begitu pun dengan perjalanan hidup Idar.   Kehilangan suami dan harus membesarkan tiga anak yang masih kecil sendirian, di usia yang masih sangat muda, di ujung perjalanan berbagai hikmah Dia berikan. Cita-cita besar yang menjadi igauannya sejak kecil, terpaksa dia kuburkan saat memilih menjaga keluarganya setelah menikah. Dia mengambil keputusan besar dan ikhlas memilihnya. Dia menjalani semua yang Tuhan telah tetapkan dalam perjalanan hidupnya dengan rela hati. Kepasrahannya, kelembutan hatinya itulah kekuatan tiada tandingan bagi penyelesaian masalah-masalah hidupnya. “Bu, Ibu, aku harus membayar uang praktikum, minggu ini,” Anak tuanya memberitahu. “Oo, iya? Ok, nanti Ibu kasih ya?” Begitu salah satu percakapannya dengan anak pertamanya satu waktu. Waktu itu, dia memang tidak mempunyai uang yang cukup untuk langsung memberikan uang yang dim...

IDAR (Part 8)

Image
Bagian 8 Berjuang Sendiri Kehilangan Adli, suaminya, adalah pengalaman hidup terberat yang harus dihadapi Idar. Di umurnya yang masih terbilang muda, dia ditinggalkan oleh pendamping hidupnya dengan tiga orang anak perempuan yang masih kecil-kecil. Yang tertua baru berumur 9 tahun, yang kedua 7 tahun dan yang ketiga usianya baru 4 tahun. Dia berada dalam kondisi yang sangat labil untuk seketika. Dia tidak tahu harus memulai dari mana menjalani hidupnya saat ini bersama anak-anak. Pikirannya buntu. Dia perlu waktu untuk mengembalikan pikiran sadarnya. Saat itulah, keluarganya menyemangatinya untuk mulai berpijak pada dunia nyata. Ayahnya, Pak Baha tidak henti memberikan semangat kepada anaknya itu. “Idar, ayah tahu kamu mampu melewati masa beratmu kali ini. Allah tidak akan memberikan suatu keadaan kepada hamba-Nya, jika Dia tidak tahu dan yakin bahwa mereka mampu melewatinya. Allah itu Maha Pemurah, Dia akan menyertakan jalan keluar pada setiap masalah yang diberikan...